Cerpen

22.02.22

"Bundaa, Angkasaa berangkat dulu yaa, babayy bundaa muaachhh," tak lupa ia salaman dengan bunda tercinta nya itu. 

......

2 tahun yang lalu, kejadian tak mengenakan menghampiri Angkasa, Papah nya telah untuk selama nya, karena penyakit yang diderita nya sudah tak bisa lagi disembuhkan. Kini ia hanya hidup berdua dengan Bunda tercinta nya. Mencoba tegar dan menggantikan sosok seorang Papah bagi Bunda nya memang tidak mudah. Namun, semua nya itu ia jalani dengan tabah dan kuat.

......

Senin pagi yang cerah membuat Angkasa semangat untuk bersekolah. Tak lupa ia menjemput sahabat perempuan nya yang bernama Firantika. Angkasa selalu memanggilnya dengan nama Antika, katanya sih biar beda dari yang lain. Perjalanan menuju rumah Antik hanya menempuh waktu 10 menit dari tempat tinggalnya. Seperti biasa Angkasa selalu menunggu di teras rumah yang dibilang cukup besar. Ia pun membunyikan klakson motornya menandakan bahwa ia sudah berada di depan.

Antika yang sedang merapikan kotak makan pun langsung berpamitan dengan bi Minah, ART sekaligus tempat curhat Antika di rumah. Keadaan rumah selalu saja sepi, Antika sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, walaupun ia sangat amat merasa kesepian. “Bi, Tika berangkat dulu yaa” ucap Antika sambil bergegas keluar rumah. “Iya Tik, hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore” saut Bi Minah. Oh ya, Tika tidak suka dipanggil dengan sebutan Non, jadi jangan heran jika Bi Minah memanggil dengan sebutan seperti itu.

“Ayok Sa, kita langsung berangkat, takut telat, hari ini kan upacara” ucap Antika sambil mendorong badan Angkasa agar cepat menyalakan motornya. “Skuy, tenang aja sih gausah panikan gitu” ejek Angkasa.

Tak terasa 15 menit diperjalanan dan kini mereka berdua sudah sampai di gerbang sekolah. Pada saat perjalanan tak ada percakapan apapun, hanya terdengar suara bisingnya kendaraan. Angkasa yang sudah paham akan mood nya Antika, memilih diam, tapi ia memiliki caranya tersendiri untuk mengubah mood sahabatnya itu.

Antika pun langsung melepaskan helm yang ia pakai dan menaruhnya di kaca spion motor milik Angkasa. “Angkasa, gue duluan ke kelas ya, btw makasih ya udah jemput gue” ucap Antika dengan wajah yang datar tanpa ekpresi. “Yaelah Antikaa, kayak sama siapa aja lo, hari ini cuaca cerah kok muka lu malah suram gitu sih” ledek Angkasa. “Diem deh gue lagi males debat sama lo pagi-pagi, yang ada tambah gak mood gue“ ucap Antika sambil berjalan meninggalkan Angkasa yang tengah merapihkan letak helm nya itu.

Tak lama kemudian, Angkasa menyusul Antika dengan tempo jalan yang cepat. “Aduhh, nih anak kenapa lagi, masi pagi udah bete aja” gumam nya dalam hati.

Sesampainya di kelas, Antika langsung meletakkan tasnya dan mengambil topi untuk upacara. Disusul oleh Angkasa, hanya saja ruangan kelas yang berbeda.

Waktu berjalan begitu cepat, tibalah saatnya bel pulang berbunyi. Seperti biasa, tak ada yang special bagi Antika, malah hari ini terbilang hari yang membosankan baginya. Lica, teman dekat yang satu kelas dengan nya tak masuk hari ini, kata sekretaris sih dia sakit. Yah palingan gak jauh-jauh dari pusing, diare, dan demam.

Sementara itu, Angkasa yang sudah stand by di depan gerbang untuk menunggu sahabatnya itu. Seperti biasa, Antika langsung naik ke motor tanpa ada percakapan apapun. Di perjalanan, Angkasa memulai obrolan. “Emang lo kenapa lagi sih? Cerita dong sama gue, jangan dicuekin gini. Biasa juga lo cerita tentang hal apapun itu, lo tau kan gue selalu siap ngedengerin keluh kesah dan ocehan dari seorang Antika.“

“Berhenti, gue mau beli es kelapa dulu, haus nih, baru tar gue cerita.“

“Siap Nyonya Antika, perintah dilaksanakan.“

Setelah membeli es kelapa tersebut, Angkasa berhenti disebuah taman favorit mereka berdua. “Katanya mau cerita, kok malah bengong gitu sih, awas kepatok ayam.”

Antika pun tak merespon candaan Angkasa. Tak lama kemudian, ia mulai cerita nya itu dengan air mata yang sudah lagi tak bisa ia bendung.

“Sa, kapan ya keluarga gue bisa kumpul lagi kayak dulu, gue kangen momen-momen itu sa.”

“Apa mereka gak mikirin perasaan gue? Gue masih butuh kasih sayang Sa, gue masih butuh larangan mereka, gue masih butuh pelukan mereka.“

Angkasa paham apa yang diomongin oleh Antika, ia pun ikut merasakan kesedihan itu.

……

Orang tua Antika hampir setiap hari bertengkar, masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini ialah perihal kepercayaan. Mereka menganut kepercayaan yang berbeda, orang tua mereka selalu menuntut agar salah satu dari mereka berkorban. Namun, sampai detik ini tak ada yang mau mengalah. Entah bagaimana sampai bisa ke jenjang pernikahan. Ditambah lagi dengan papah nya Antika yang mulai mengancam akan menikah lagi dengan seseorang yang satu keyakinan dengan nya jika mamah Antika tidak mau berkorban. Mereka juga selalu meributkan hal tentang kepercayaan yang dipilih oleh Antika.

…….

Angkasa mencoba menenangkan Antika yang sedari tadi sudah menangis. Pada saat itu juga detak jantung Angkasa mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Jika harus jujur, Angkasa akan mengakui kalau ia suka dengan Antika. Sosok perempuan yang sederhana, pendiem, pintar, dan pandai menempatkan posisi dalam keadaan apapun, membuat Angkasa kagum pada dirinya. Antika juga pandai menyembunyikan perasaan sedih nya ketika di depan orang tua nya. Angkasa selalu menunggu waktu yang pas agar ia dapat berkata jujur.

Saat Angkasa mencoba menenangkan nya, ia pun sama. Detak jantung ny terasa bekerja lebih cepat dari biasanya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Sebenarnya, Antika menaruh hati dan harapan nya pada Angkasa. Sosok sahabat sekaligus calon kekasih yang selalu saja dapat membuat nya tenang ketika ada malasah. Angkasa adalah satu-satunya sahabat yang dapat ia percayai. Karena ia yakin bahwa Angkasa orang yang berhati tulus.

…….

Feni adalah teman sekelas Angkasa sekaligus ketua kelas. Ia juga ketua geng cewe-cewe yang suka labrak-melabrak adik kelas. Ia menyukai sosok Angkasa, karena di matanya, Angkasa itu masuk ke dalam kriteria list cowo yang harus ia dapati. Setiap hari ada saja kelakuan Feni dan geng nya dalam mencari perhatian dari sosok Angkasa yang terkenal sebagai cowo dingin di sekolah nya itu. Feni tak menyukai apabila ada cewe yang mendekati cowo inceran nya itu.

…….

Ketika mereka telah menyelesaikan sesi curhat nya. Angkasa pun langsung mengajak Antika untuk bergegas pulang. Karena ia tau bahwa orang tua Antika mewajibkan Antika untuk mengikuti 2 les dalam sehari.

Ketika hendak pulang, tak sengaja mereka bertemu dengan Feni dan geng nya. Tak ada sapaan yang terdengar dari masing-masing mereka. Hanya tatapan sinis yang Antika dapatkan dari Feni dan geng nya itu. Pastinya Antika paham mengapa mereka seperti itu. Dalam hati Antika, ia pun merasa kesal karena di liatin dengan tatapan seperti itu.

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang mereka. Tak terasa Antika sudah sampai di rumah pukul 5 sore. Ia merasa lega karena melihat belum ada tanda-tanda orang tua nya pulang. Karena jika papah nya melihat Antika baru pulang, sudah pasti akan memarahi dan memberikan hukuman untuk dirinya. Karena papah nya tidak suka Antika keluyuran seperti itu. Makanya ia sudah menjadwalkan jam les untuk anak satu-satunya itu.

Seperti biasa, suasana rumah hening, hanya ada ia dan Bi Minah dalam rumah 2 lantai itu. Ia pun langsung bersih-bersih, istirahat sebentar dan langsung berangkat ke tempat les pertama. Setelah itu, lanjut ke tempat les kedua dangan jarak yang tidak jauh dari tempat les pertama.

Sementara itu, Angkasa yang sedari tadi terus memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaan nya itu, sudah mulai putus asa mencari bagaimana solusi yang tepat. Karena besok adalah tanggal cantik 2 Februari 2022.

…….

Suasana pagi seperti biasa tak ada yang aneh ataupun berubah. Tapi hari ini Angkasa pastikan rencana nya akan berhasil.

………

Bel pulang pun berbunyi, saat nya rencana dilaksanakan. Seperti biasa mereka mampir dulu ke taman favorit nya mereka berdua. Dan pada saat itulah, Angkasa mulai menyatakan perasaan nya kepada Antika.

……...

“Antika, kalau boleh jujur, gue suka sama lo, gue kagum sama lo. Bukan tentang rupa nya yang menawan, tapi sikap lo yang justru bikin gue jatuh cinta. sikap lo ini yang udah jarang ditemuin di cewe-cewe jaman sekarang. Diri lo yang sederhana buat gue makin suka sama lo An. Entah mau lu anggap gue apa, tapi kalau perasaan ini terus gue sembunyiin, gue gabisa An, terlalu berat untuk gue tahan dan tamping sendirian. Gue siap jadi seseorang yang bisa lo bagi keluh kesah lo, maaf gue gak pandai ngomong yang romantis-romantis gini. Apapun keputusan yang lo ambil, gue terima An. Terima kasih karna lo udah menjadi orang yang selalu buat gue harus selalu bersyukur untuk kehidupan yang gue jalani sekarang. Lo yang selalu ngajarin gue hidup sederhana. Senyuman dan tawa lo adalah kebahagiaan tersebesar buat gue An. Gue ga suka ketika ngeliat lo nangis, hati gue juga ikutan sedih An asal lo tau. Karna gue benci setiap air mata yang keluar dari mata lo. Gue yakin, gue bisa ngebuat lo selalu bahagia tanpa mengeluarkan setetes air mata dari mata indah lo An. Harapan gue si, lo jadi cewe gue, Antika Mentari-”

….

Antika terdiam mendengar perkataan Angkasa, entah harus bagaimana ia memulai bicara nya. Jujur ia malu untuk memberitahu nya tentang segala hal yang ia rasakan.

….

Seketika Lica langsung menyenggol tubuh kecil Antika yang sedari tadi bengong menghadap batu nisan yang bertuliskan nama Angkasa. Ternyata, Antika teringat kejadian indah tersebut. Ya, angkasa sudah tiada sejak 1 tahun yang lalu, lebih tepat nya pada tnggal 22 Februari 2022. Ia mengalami kecelakaan, dimana ia tertabrak oleh truk besar yang melindas kepala nya itu ketika sedang menuju rumah sakit untuk menjenguk Antika yang mengalami kecelakaan kecil. Ia sengaja diselengkat oleh Feni dan geng nya itu, karena tak terima kalau Antika semakin dekat dengan Angkasa. Antika terjatuh, kepala nya terbentur trotoar pinggiran got sekolah. Angkasa yang mengetahui hal tersebut, langsung meminta sekolah untuk memanggil ambulance. Karena darah yang terus mengalir yang membuat Antika tak sadarkan diri. Pihak UKS tidak bisa menangangi kondisi tersebut, dikarenakan perlengkapan yang tidak memadai, terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Angkasa langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi guna sebagai pemandu ambulance agar cepat sampai. Namun, sayangnya Angkasa mengalami kejadian mengenaskan itu.

Hari itu, menjadi hari yang sangat amat mendalam bagi Antika. Dimana ia belum sempat membalas pesan tersebut dari Angkasa. Namun, Angkasa lebih dahulu mengalami kejadian tragis tersebut.

Kini, tak ada lagi yang dapat disebut rumah untuk Antika. Tak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah. Orang yang selalu membuat nya bahagia walau dengan hal-hal yang kecil. Tak ada lagi pelukan yang dapat ia rasakan kehangatan nya ketika ia terpuruk. Namun sekarang, ia hanya bisa memandangi foto kenangan dan batu nisan yang ada di hadapan nya itu. Ia hanya bisa memeluk setumpuk tanah merah bukan lagi kehangatan yang ia rasakan, melainkan terpaan angin dingin yang merasuk ke dalam tubuh nya. Ia merindukan senyuman itu, merindukan semua nya tentang Angkasa. Ia yakin di sana Angkasa jauh lebih bahagia. Tapi, di sini, apa bisa Antika merasakan kebahagiaan nya kembali setelah yang ia jadikan sebagai rumah telah tiada?

Antika selalu meminta kepada Tuhan, agar Angkasa di tempatkan disisi Nya. Ia juga sering berkunjung ke makam Angkasa. Tapi ia sudah berjanji kepada diri nya sendiri, bahwa ia tidak akan membiarkan air mata nya jatuh ke tanah itu. Ia selalu menahan itu sebisa mungkin. Antika selalu berharap, bahwa ia dapat menemukan orang seperti Angkasa dikehidupan nya yang sekarang.

......

Angkasa, aku berharap kita bisa bertemu dikehidupan selanjutnya. Tapi tidak untuk sekarang. Sering-sering datang ke mimpi ku ya Sa. “Entah, harus aku kubur sedalam apalagi perasaan aku Sa.“

 

Komentar

Posting Komentar